Affiliate Program ”Get Money from your Website”

Thursday, April 7, 2011

Graffiti, Rahasia Dalam Kehidupan Masyarakat

Sering kita lihat pada suatu ketika sebuah tembok atau dinding yang tadinya berwarna polos, namun keesokan harinya tiba-tiba kesemuanya berubah menjadi suatu lukisan abstrak yang artistik.

Dengan bermodalkan spray paint, cat dan spidol, beraksi di malam hari, dibuat di tembok jembatan layang, tembok samping rumah, tembok pembatas lahan tidur, sampai rolling door toko yang sudah tutup. Menciptakan sebuah tulisan ataupun lukisan yang sangat mencolok yang menarik perhatian para pengguna jalan di pagi harinya.


Itulah suatu seni tulisan atau lukisan dinding yang dinamakan "Graffiti". Sedangkan untuk para pelaku Graffiti sering disebut dengan istilah 'bomber'. Graffiti adalah nama untuk gambar atau huruf tergores, tertulis, dicat atau ditandai dengan cara apapun pada properti.


Disebut juga Graffiti adalah setiap jenis tanda-tanda umum yang mungkin muncul dalam bentuk tertulis sederhana kata-kata untuk menjelaskan lukisan dinding. Istilah graffiti sendiri diambil dari bahasa latin, 'graphium' yang artinya menulis.
Pada asal mulanya, Graffiti mengandung tulisan rakyat yang menggunakan bahasa Latin Rakyat dan bukan bahasa Latin Klasik.

Kebiasaan melukis di dinding bermula dari manusia primitif sebagai cara mengkomunikasikan perburuan. Pada masa ini, Graffiti digunakan sebagai sarana mistisme dan spiritual untuk membangkitkan semangat berburu.

Perkembangan kesenian di zaman Mesir kuno juga memperlihatkan aktivitas melukis di dinding-dinding piramida. Lukisan ini mengkomunikasikan alam lain yang ditemui seorang pharaoh (Firaun) setelah dimumikan.

Contoh yang lain Graffiti sudah ada sejak zaman dulu adalah ditemukannya lukisan sindiran terhadap pemerintahan Romawi Kuno di dinding-dinding bangunan. Lukisan ini ditemukan di reruntuhan kota Pompeii. Sementara di Roma sendiri dipakai sebagai alat propaganda untuk mendiskreditkan pemeluk kristen yang pada zaman itu dilarang kaisar.
Pada perkembangannya, Graffiti di sekitar tahun 70-an di Amerika dan Eropa akhirnya merambah ke wilayah urban sebagai jati diri gang yang menjamur di perkotaan. Karena citranya yang kurang bagus, Graffiti malah terlanjur jadi momok bagi keamanan kota. Alasannya karena dianggap memprovokasi perang antarkelompok atau gang. Parahnya, selain dilakukan di tembok kosong, Graffiti pun juga dilakukan di kereta api bawah tanah.

Di Amerika sendiri, setiap negara bagian sudah punya peraturan tersendiri untuk membungkam Graffiti. Di San Diego, California, sampai New York, semua punya undang-undang yang menyebutkan bahwa Graffiti adalah ilegal. Di zaman modern seperti sekarang ini, spray paint, cat dan spidol normal telah menjadi bahan yang paling umum digunakan. Di kebanyakan negara, mengotori properti dengan Graffiti tanpa persetujuan pemilik properti dianggap vandalisme, yang dihukum oleh hukum.

Sebagai contoh di Indonesia yang disebut sebagai vandalisme adalah tulisan atau gambar yang asal-asalan, seperti corat-coret dengan sekedar tulisan
. Kadang-kadang Graffiti yang digunakan untuk mengkomunikasikan pesan sosial dan politik. Untuk sebagian orang, ini adalah sebuah bentuk seni yang layak dipajang di galeri dan pameran; kepada orang lain itu hanyalah vandalisme.

Graffiti sejak berevolusi menjadi sebuah keberadaan budaya pop bawah tanah yang sering berhubungan dengan musik hip hop dan b-boying menciptakan gaya hidup yang masih tersembunyi dari masyarakat umum.


Graffiti digunakan sebagai sinyal geng untuk menandai wilayah atau sebagai indikator atau "tag" untuk sebuah kegiatan geng. Kontroversi yang mengelilingi Graffiti terus menciptakan ketidaksepakatan diantara para pejabat kota/para penegak hukum untuk menampilkan karya mereka di lokasi publik.
Sepertinya masih belum ada undang-undang yang secara tegas menyebutkan bahwa sebuah Graffiti itu ilegal. Tapi kalau mendengar cerita-cerita dari bomber-bomber Ibu Kota yang sering disuruh menghapus piece (karya) mereka, kayaknya aksi mereka memang bikin gerah pemerintah kota.

Akhirnya, para bomber memang bergerak diam-diam. Mereka menggunakan media internet untuk merencanakan aksi mereka. Mereka biasa berkumpul di sebuah meeting point yang sudah ditentukan. Di situ mereka merencanakan soal
spot (sasaran lokasi), jalur dan keamanannya. Kalau yang ikut sampai ada banyak kru, diperlukan beberapa tim advanced
untuk mengecek keadaan spot.
Sebenarnya Graffiti dapat membantu untuk semacam 'penyegaran mata'. Bayangkan kalau kita sedang mengalami kemacetan. Entah itu di kolong jembatan atau di samping tembok panjang. Terus di samping kiri-kanan terpampang graffiti dalam berbagai bentuk. Nah, para bomber tadi mempunyai tujuan yaitu menjadikan karya-karyanya sebagai 'penyegaran mata'.

0 comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...